Free songs

FORGOT YOUR DETAILS?

BERENANG DALAM ANUGRAH KEMULIAAN RAMADHAN MENUJU SAMUDRA AMPUNAN

by / Wednesday, 13 June 2018 / Published in Artikel

Dr. Rachman Sidharta Arisandi, M.Si.

Telah menjadi pemahaman umum bagi umat Islam bahwa ramadhan merupakan saat istimewa bagi setiap mukmin/muslim/muhsin. Setidaknya terdapat Tiga keutamaan di dalamnya jika seorang mukmin melaksanakan ibadah – termasuk puasa – hanya untuk Allah SWT, sebagai imbalannya Allah menganugrahkan kepadanya beberapa berkah yang merupakan bagian atas rahmat-Nya yang secara umum dapat disebutkan tanpa menghiraukan urutannya sebagai berikut: pertama,akan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Kedua, dalam bulan tersebut terdapat satu malam yang dinamakan malam Lailatul Qodar. Ketiga, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan para syaitan dibelenggu. Namun apakah semata-mata demikian??

Sebutan ramadhan seringkali juga disebut sebagai Syahrul Jihad yang berarti adalah pengendalian hawa nafsu yang dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada nafsu akan lapar dan dahaga semata. Hal tersebut dapat diresapi melalui sabda Rassulullah SAW yang berbunyi “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja”. Melengkapi sabda tersebut, Rassulullah juga menyampaikan “Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor”. Merujuk pada kedua hal tersebut, maka pemahaman puasa adalah menahan diri dari segala macam hal yang berkaitan dengan nafsu.

Anugrah ketiga di atas, tentu tidak berlaku ketika kita tidak sungguh-sunguh bersiap diri melaksanakan berbagai kebaikan dan menghindarkan diri tunduk pada nafsu. Semoga hal ini dapat menjadi jawaban atas pertanyaan seperti “jika syaitan dibelengu, mengapa masih banyak orang – beragama Islam – tak berpuasa dan tergoda mengumbar nafsu baik dalam kategori ringan atau berat baik secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Kesungguh-sunguhan dalam bertindak baik dan menghindarkan diri dari segala macam yang dapat membatalkan puasa pun juga memungkinkan kita beroleh kesempatan atas terbukanya semua pintu surga dan tertutupnya pintu neraka kelak sebagai rahmat Allah.

Anugrah kedua, tentang malam Lailatul Qodar. Allah SWT lagi-lagi menyelimuti kehadiran Lailatul Qodar dengan hijab yang cukup rapat sehingga kehadiran Lailatul Qodar tidak pernah disangka secara tepat oleh semua orang, khususnya pada zaman ini. Semua menjadi teka-teki apalagi ketika itu kalender hijriah belum diberlakukan, ditambah lagi dengan seruan Rassulullah “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Adalah Al’Alaq, firman atau wahyu Allah yang pertamakali di turunkan kepada Rassulullah ketika berada di dalam gua Hiro . Dalam kejadian tersebut, hanya 5 dari 19 ayat yang diturunkan ketika itu, yakni:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam”.

Tafsirnya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Lalu apa malam Lailatul Qodar itu? Keterbatasan pengetahuan kita, manusia, membuat Allah kemudian mendiskripsikan Malam Lailatul Qodar melalui sifat-sifatnya, tentang malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan, dimana, malam itu turun para malaikat beserta Jibril dengan ijin Allah untuk mengatur segala urusan, dan dimalam itu pula, penuh kesejahteraan hingga terbitnya fajar.Tentu seribu bulan ini tidak lantas dimaknai hitungan matematis diangka seribu. Sama dengan penggunaan kata dalam sebuah judul puisi karya Chairil Anwar “Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi“. Kata seribu disini merupakan sebuah idiom atas nilai kemuliaan yang tak terhitung bobotnya. Sebagaimana tertuang dalam surat Al Qodar:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾1

“Inna anzalna Hufilailatil qodr.Wamaa ad-ro kama-lailatul qodr. Lailatul qod-ri khoirum min-al fi-syahr. Tanazzalul malaa ikatu warrukhu fiiha bi’idzni robbihim minkulli amr. Sala-mun hiya hatta matla-‘il fajr.”

Dapat kita garisbawahi kalimat pembuka di awali dengan kata “Inna” yang kemudian ditafsirkan dengan kata “sesungguhnya” yang dapat dimaknai adanya penekanan keseriusan atau kesungguhan. Kemudian diikuti dengan kata “anzalna – dalam konteks surat Al Qodar: 1 yang tentu berbeda dengan kata “nazaladalam konteks surat Asy Syu’araa’: 193.

Kata “anzalna” yang berkonsekuensi bahwa ayat Al Qur’an/Mushaf/Tanzilul Hakim tersebut diturunkan sekaligus oleh Allah SWT dari Lauhul Mahfuzh dan disimpan sementara ditempat penampungan yang bernama Baitul ‘Izzah. Setelah seluruh firman Allah disimpan, Malaikat Jibril kemudian menurunkannya sesuai dengan persoalan yang dihadapi rassulullah SAW. Adapun penggunaan kata “nazala” dapat dilihat pada surat Asy Syu’araa’ ayat 193:

نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلْأَمِينُ

nazala bihi rruuhu l-amiin

Yang bertafsir: “dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amiin (Jibril). Merujuk pada ayat sebelumnya (Asy Syu’araa’ ayat 192) yang berbunyi “wa-innahu latanziilu rabbi l’aalamiin” (bertafsir: Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam), maka kata diapada ayat 193 merujuk pada kata Al Qur’an.

Hal lain yang menarik dari ibadah puasa dibulan ramadhan – berbeda dengan ibadah lain – seperti sholat yang mengunakan hanya hitungan berdasar posisi matahari saja, atau ibadah haji yang dihitung berdasarkan kalender hijriah atau hitungan bulan. Ibadah puasa dibulan suci ramadhan menggunakan keduanya, yakni kalender bulan untuk menentukan kapan dimulainya puasa ramadhan hingga kapan saat lebaran, setidaknya hal tersebut dapat kita cermati dalam suat Al Baqarah 185:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Tafsirnya:

“Barangsiapa di antara kamu hadir di bulan (Ramadhan) itu, wajib baginya puasa” (QS. Al Baqarah: 185).

sedangkan penentuan waktu imsak dan berbuka menggunakan matahari sebagai penentunya sebagaimana disinggung Allah dalam surat Al Baqarah 187:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Tafsirnya:

“Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu waktu fajar”.(QS. Al Baqarah: 187).

 

Anugrah Pertama dan paling utama, yakni tentang diampuni segala dosa dan kesalahan kita. Telah disampaikan sebelumnya bahwa semua anugrah termasuk ke tiga anugrah tersebut tidak lantas diberikan begitu saja. Ada proses yang harus dilalui. Namun secara psikologis, suatu pekerjaan jika dikerjakan beramai-ramai tentu akan terasa ringan, dan itu merupakan nikmat tersendiri. Sama dengan ramadhan, dimana segala ibadah termasuk upaya menahan hawa nafsu diupayakan oleh semua umat Islam tentu terasa lebih ringan. Pun demikian menempa diri, menahan hawa nafsu, dan khususnya melatih kesabaran dan keikhlasan merupakan hal yang berbeda dengan segala tindakan yang tampak.

Ramadhan merupakan sarana meningkatkan kualitas keimanan dengan harapan mendapat kebaikan Allah berupa rahmat agar kesungguhan niat kita menjadikan kita sebagai insan yang “tattaqun”. Dengan membiasakan diri menjaga perkataan, prasangka dan berbagai tindakan buruk atau sekedar tidak menyenangkan saja, secara sah kita boleh berharap mendapat santunan dari Allah SWT, sebagaimana diserukan dalam surat  Al Baqarah 263:

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“qawlun ma’ruufun wamaghfiratun khayrun min shadaqatin yatba’uhaa adzan waallaahu ghaniyyunhaliimun”.

 

Tafsirnya:

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

Dengan mengharap santunan Allah berupa keberuntungan mendapat anugrah disucikannya diri dari segala macam dosa dan kesalahan. Rahmat mempunyai sifat baik (merupakan kebaikan) yang diberikan tanpa batas dan tanpa mempertimbangkan kepantasan. Rahmat Allah dapat diturunkan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Kemenangan yang merupakan keluaran dari setiap unsur trilogi risalah islam adalah tattaqun, yang tidak dapat kita mencapainya tanpa kebaikan dan rahmat Allah SWT. Salah satu hal yang perlu kita lakukan agar mendapat rahmat Allah – disamping selalu bertindak dan senantiasa menebar kebaikan – adalah membersihkan diri dengan memohon ampun kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam surat An Naml 46:

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿ ٤٦ ﴾1

Tafsirnya:

Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat

 

Dalam perkara dosa, terdapat dua macam dosa, yakni haqqullah (dosa kepada Allah) dan haqqul-adam (dosa kepada anak adam/manusia). Dosa kepada Allah kita kenal dalam dua macam pula, yakni dosa kecil dan dosa besar, sedangkan dosa kepada anak adam adalah dosa atas perbuatan-perbuatan yang melanggar hak sesama anak adam. Namun, terdapat anggapan bahwa permasalahan yang berhubungan dengan haqqullah ini, yakni tidak akan diterima taubat seseorang ketika ia belum meminta maaf atau menyelesaikan persoalan haqqul-adam terlebih dahulu.

Dalam kebiasaan di Indonesia, terjadi sebuah mekanisme sosial yang cukup baik dalam memfasilitasi hal ini, yakni silaturahmi dan halal bi halal. Dalam kegiatan tersebut sungguh tanpa sadar kita dibantu untuk bermaaf-maafan tanpa ada kecanggungan sedikit pun. Benar-benar hebat iklim sosial di Indonesia ini. Sehingga seharusnya, hal ini dapat menyelesaikan persoalan haqqul-adam dan kemudian berdampak pula pada haqqullah, yang itu berarti semakin besar pula kesempatan kita untuk mencapai keluaran pada kehidupan spiritual kita sebagai insan yang “tattaqun”.

Satu hal terakhir yang perlu disampaikan disini adalah soal meluruskan hal wajib dan sunah saat bertemu keluarga, saudara, dan kerabat. Kata para ulama di jawa, “wajib e gak oleh ngalahno sunah e” (wajibnya tidak boleh mengalahkan sunahnya). Sedangkan kita ketahui di setiap ucapan menjelang takbir kemenangan di hari yang fitri kita seringkali mendapat pesan singkat atau rangkaian ucapan yang umumnya diucapkan seperti ini:

تقبّل الله منّا ومنكم صيامنا وصيامكم ﻭﺟﻌﻠﻨﺎ من العائدين والفائزين كل عام و انتم بخير

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna MINAL AIDIN WAL FAIZIN, kullu ‘amin wa antum bi khair

Artinya:

Semoga Allah menerima puasa kami dan puasa kamu, dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang-orang yang menang (melawan hawa nafsu selama ramadlan), dan Semoga sepanjang tahun dalam keadaan baik – baik.

 

Kondisi lain, lebih banyak yang suka meringkas, hanya dengan mengucapkan minal aidin wal faizin (yang dapat dimaknai sebagai permohonan agar kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali (fitrah) sebagai orang-orang yang menang), mohon maaf lahir dan batin.

Sebagaimana tersebut di atas, kedua contoh tersebut lebih mendahulukan do’a daripada meminta maaf. Memang hal ini tidak terasa penting, namun salah pada penempatan apakah merupakan hal yang benar dan baik? dalam arti lain, bukankah mendahulukan do’a dari pada meminta maaf termasuk dalam ke-zalim-an?, sedangkan definisi dari zalim menurut islam sendiri adalah menempatkan suatu perkara tidak pada tempatnya.

Diakhir kesempatan ini, saya mewakili pribadi, keluarga, Pimpinan di Universitas Islam Majapahit, seluruh karyawan dan dosen mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan, ketajaman lidah, kebutaan hati, keinginan berlaku adil yang tanpa sengaja – dan terlebih yang disengaja –telah menyakiti atau menyinggung para kerabat dan masyarakat pada umumnya. Semoga di tahun ini kita menjadi lebih baik dari tahun lalu sebagai tanda orang-orang yang beruntung. Semoga kita dapat melaksanakan peran sosial meski kita berbeda keyakinan, karena terdapat penerapan moral yang berbeda. Maksudnya, bagi yang berpuasa tetaplah menjaga peningkatan kualitas ibadah tanpa harus memaksa orang lain menghormati kita. Bagi yang tidak sedang berpuasa hargailah mereka yang sedang berpuasa dan beribadah meskipun mereka tidak mempermasalahkannya. Demikian pula jika umat lain sedang tirakat dan merayakan hari besarnya. Hidup di NKRI sangatlah mempesona, mari kita perkokoh Persatuan Indonesia.

Leave a Reply

TOP