Free songs

FORGOT YOUR DETAILS?

“KEPO” SOAL SELEKSI MASUK UNIM

by / Friday, 16 September 2016 / Published in Kegiatan

UNIM. Karena tidak lulus seleksi pada gelombang pertama, seorang calon mahasiswa baru Universitas Islam Majapahit bermaksud mendaftar lagi pada gelombang kedua untuk Program Studi yang sama. Persyaratan dia lengkapi, uang pendaftaran juga sudah disiapkan.

Apa lacur? Ternyata bagian pendaftaran tidak mau menerima pendaftaran dia. Ratih Kumalasari menjelaskan, “Tidak bisa. Ujian masuk di sini hanya sekali, ya dengan asesmen psikologis itu. Jadi kita tidak mengenal istilah test lagi”. Calon mahasiswa baru itu pun bingung. “Kepo” pakai “bingits” terhadap sistem penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Majapahit.

Agar semua tak lagi “kepo”, koresponden unim.ac.id berusaha mencari informasi, baik berdasarkan kebijakan resmi universitas maupun dengan narasumber rektorat. Nah loe, ternyata sistem penerimaan calon mahasiswa baru Universitas Islam Majapahit didasarkan pada Peraturan Rektor Nomor 002/UNIM/PR/B/IX/2015 tentang Pedoman Operasional Standar Admisi Mahasiswa Baru Universitas Islam Majapahit. Admisi sendiri, artinya penerimaan.

 

Admisi Mahasiswa Baru

Disebutkan dalam peraturan itu, bahwa admisi mahasiswa baru harus menjamin agar setiap mahasiswa baru masuk pada program studi yang sesuai dengan kesiapan belajar, jenis kecerdasan terbaik, minat pribadi, dan daya-tampung program studi. Kesiapan belajar adalah prestasi belajar pada jenjang sekolah menengah yang diukur berdasarkan nilai rerata hasil ujian nasional dan atau nilai rerata ijazah.

Jenis kecerdasan terbaik adalah jenis kecerdasan dengan skor tertinggi berdasarkan asesmen psikologis yang dilaksanakan oleh asesor psikologis bersertifikat. Minat pribadi adalah pilihan jenjang dan program studi calon mahasiswa pada saat mendaftarkan diri. Sedangkan daya-tampung program studi adalah daya-tampung tersedia pada program studi yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Majapahit.

Terus bagaimana itu dilakukan? Ternyata, proses penerimaan dan penempatan mahasiswa baru dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, proses penerimaan dilakukan melalui seleksi administratif berupa pemenuhan persyaratan lulusan sekolah menengah atas atau yang sederajat. Jadi, pada dasarnya setiap lulusan sekolah menengah atas telah memenuhi persyaratan untuk diterima sebagai calon mahasiswa baru. Persoalannya, yang bersangkutan diterima pada program studi apa? Jawabnya ada pada tahap kedua.

Kedua, proses penempatan dilakukan melalui asesmen psikologis dan atau bimbingan akademik yang diselenggarakan oleh universitas bekerjasama dengan lembaga psikologi bersertifikat dan penugasan tenaga ahli bimbingan akademik. Dengan kata lain, sejauh ini ada pembedaan antara penerimaan dengan penempatan.

Mengapa demikian? “Pertama, kami ingin agar setiap calon mahasiswa bisa belajar tidak hanya sesusai dengan minat pribadinya, tetapi juga jenis kecerdasan terbaiknya. Maksudnya begini. Minat atau pilihan calon mahasiswa saja tidak cukup, karena mereka harus membuktikan bahwa pilihannya sesuai dengan bakat atau kecerdasannya. Jadi walaupun minatnya tinggi, kalau tidak didukung oleh bakat atau kecerdasan, mereka akan gagal. Bisa gagal studi, bisa pula gagal mencapai prestasi terbaik. Ringkasnya, ini dilakukan agar studi mahasiswa lancar dan berprestasi. Jangan sampai sudah susah lulusnya, setelah lulus kecakapannya sangat tanggung (mediocre)”, ungkap Dr. Sakban Rosidi, M.Si., Sekretaris Eksekutif Universitas Islam Majapahit.

 

Asesmen Psikologis

Menurut Rektor Universitas Islam Majapahit, Dr. Rachman Sidharta Arisandi, M.Si., sistem penerimaan dan penempatan calon mahasiswa baru seperti ini sudah dirintis sejak tahun pertama masa jabatannya (2015/2016). “Tahun lalu, juga sudah dilaksanakan asesmen psikologis atau psikotes. Kita bekerjasama dengan lembaga psikologi yang memiliki lisensi test psikologi. Sertifikatnya juga diberikan kepada para calon mahasiswa baru. Biar mereka tidak hanya percaya diri, tetapi juga tahu diri. Maksudnya, tahu tingkat dan jenis kecerdasannya sendiri. Ada yang kecerdasan matematisnya bagus, tetapi kecerdasan verbalnya rendah. Ada yang kecerdasan verbalnya bagus, tetapi kecerdasan logisnya rendah, dan sebagainya. Nah, calon mahasiswa harus memilih program studi yang sesuai dengan jenis kecerdasan terbaiknya. Jadi studi lancar, lulus tepat waktu, dan menjadi sarjana yang mumpuni.”

Mengapa ada calon mahasiswa baru yang tidak lulus seleksi? Pak Andik, panggilan akrab Rektor, menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada calon mahasiswa baru yang tidak lulus seleksi, asalkan memenuhi syarat lulus sekolah menengah atas, dan memilih program studi yang daya tampungnya masih tersedia. “Tidak perlu bayar pendaftaran lagi. Tidak perlu tes lagi, karena tes yang diberikan bukan tes hasil belajar, tetapi tes kecerdasan. Nah, karena itu, calon mahasiswa baru yang gagal masuk pada program studi yang dia pilih, baik karena sudah melebihi daya-tampung maupun karena memang tidak didukung oleh skor kecerdasan yang diperlukan, akan mendapat layanan bimbingan akademik”, tegas rektor muda yang sampai sekarang masih menjomblo sukarela.

 

Bimbingan Akademik

Ditemui sejenak setelah melaksanakan tugas bimbingan akademik calon mahasiswa baru, Pak Sakban menjelaskan. “Prinsip bimbingan akademik bagi calon mahasiswa baru itu membantu mereka lebih realistis dan positif menerima keadaan dirinya, memusatkan perhatian pada masa depan dan tujuan sebenarnya, dan mengambil keputusan penting secara mandiri, hati-hati, penuh pertimbangan, dan bertanggungjawab.”

“Jadi tugas saya pertama membantu mereka memahami arti angka-angka dalam sertifikat hasil asesmen psikologis. Dengan begitu, mereka mengenal kekuatan (strength) dan  kelemahan (weakness) dirinya. Juga saya ajak mereka berdialog, apa saja akibatnya bila seseorang memilih program studi yang justru mengenai kelemahan dirinya. Kuliah menjadi lebih berat, tidak menyenangkan, menghancurkan kepercayaan diri, dan akhirnya gagal atau kurang berhasil dalam studi, sehingga gagal bersaing dalam dunia kerja. Kepada mereka, saya juga berusaha menjelaskan prospek program studi lain yang sesuai dengan jenis kecerdasan terbaiknya, atau kekuatan diri tadi. Bagaimana peluang (opportunity) dan ancaman (threat) yang dikaitkan dengan kekuatan dan kelemahan diri?

“Setelah mereka memahami kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT), selaku petugas bimbingan akademik, saya memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih. Mahasiswa bebas memilih, apakah mengurungkan niatnya berkuliah di universitas ini, atau memilih program studi lain yang sesuai dengan kekuatan diri dan peluang ke depan. Agar lebih terang-benderang, selain didampingi petugas bimbingan akademik lainnya, saya juga didampingi oleh Ketua Program Studi terkait.”, terang Pak Sakban yang sering tampil dengan kemeja putih, dengan badge UNIM dan nama terang.

Hasil peneluran ke Biro Hubungan Masyarakat dan Admisi Mahasiswa Baru (Biro Humas dan Admisi), menunjukkan bahwa bimbingan akademik ini berlangsung cukup efektif. “Saya catat hanya satu calon mahasiswa baru yang tidak lulus seleksi pada prodi pilihannya, yang kemudian mengundurkan diri. Selebihnya, memastikan diri tetap kuliah di sini, tetapi pada program studi yang lain”, kata staf biro, Ratih Kumalasari.

Begitulah. Semoga tidak kepo lagi!

One Response to ““KEPO” SOAL SELEKSI MASUK UNIM”

  1. selgrid says : Reply

    Begitu panjang ternyata proses seleksi hingga bisa di terima di UNIM. Semoga semakin baik kualitasnya

Leave a Reply

TOP